Sudah lama tidak menengok blog ini.
Sebentar! Bukannya ini blog saya sendiri. Adakah aku sudah bukan seorang tuan rumah yang baik?
Entahlah. Tapi yang jelas begini: setiap hari saya mengetik dua atau tiga halaman hampir tiap hari. Saya menyalin informasi penting dan terkadang rahasia dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia. Yang tidak mengenakkan adalah “semakin banyak yang kita tahu, semakin banyak yang kita rindukan.” Ternyata menyakitkan sebuah “pengetahuan mengenai banyak hal”. Pada pengalaman saya, sudah cukup membuat saya muntah setiap pagi ketika mengetahui jumlah korban yang mati akibat bentrok demonstran di Kairo, keputusan hukuman mati 21 tersangka tindak pidana kerusuhan Port Said yang menewaskan 70 supporter sepakbola Ahly Kairo, serangan Israel membantai warga Palestina, mengendus sumber dana organisasi Islam besar di Mesir, cadangan devisa Mesir yang sebentar lagi mau habis dan lain lain…
Praktis, saya jadikan otak saya seperti mesin penyelep tepung dari beras. Saya tidak berfikir. Karenanya ketika selesai mengetik, saya tidak merasa sudah menulis. Dan saya sadar telah menghilangkan satu langkah penting dalam menghadirkan sebuah tulisan: berpikir.
Aku berpikir maka aku ada, kata Descartes.Aku mengingat, maka aku ada, kata Milan Kundera.Aku tertawa, karena aku ada, kata cerita Malaikat di Le Livre du rireet de L’oubliAku menulis, maka aku hidup, kata Naguib Mahfoudz.
Ini yang saya ingat, dalam kondisi minus nol, Naguib membebaskan dirinya dengan menulis. Ia meng-a-d-a-kan eksistensinya dengan tulisan. Lalu di bagian ini saya akui ingin mencontohnya: menulis catatan harian dengan niat akan tidak saya tunjukkan kepada siapapun. Kamu tahu mengapa? Karena saya masih seonggok masa lalu. Dan terjebak dalam keadaan begini terus-menerus, bagi saya adalah sebuah kesalahan fatal.
Kemudian kuputuskan: privat harus ditempatkan di ruang privat dan publik harus ditempatkan di ruang publik. Gampangnya seperti ini: kalau saya bertengkar dengan ayah saya, saya tidak bisa mengumbarnya di Facebook atau di blog ini. Kemarahan ayah saya terhadap saya adalah urusan publik bagi kami sekaligus urusan privat bagi kawan-kawan saya di sini.
Well, lanjut…
Saya sudah sangat menikmati hari-hari semenjak awal tahun kemarin. Bisa membeli buku waktu ada pameran buku internasional di Kairo, membacanya (tentu masih banyak yang belum terbaca), menikmati jalan-jalan, mengurusi pekerjaan, mengajar orang-orang (tepatnya gadis-gadis mahasiswi yang cantik) Mesir bahasa Indonesia di Ismailiyah, sesekali nonton musik klasik di opera, sudah jarang nonton film, berkumpul dengan kawan-kawan, dan lain-lain. Rutinitas? Iya memang. Yang kadang membosankan dan tak jarang mengasyikkan.
Oh iya, beberapa minggu ini, saya mengalami sejumlah hal:
Jalan-jalan ke Downtown, menemukan lagi toko-toko buku yang lama tak saya datangi. Sambil memborong belasan buku bulanan. Setidaknya sudah punya rencana, kemana buku itu akan dilarikan setelah dibawa pulang.
Serius searching "Islam and Music" di Google. Muncullah banyak tautan teratas yang menyebutkan bahwa Islam melarang musik. Mencengangkan. Agama yang saya peluk melarangnya? Walaupun saya bukan pemain biola yang baik, hal ini bagi saya adalah masalah besar.
Mulai belajar menyetrika baju setelah mencuci. Dan menemukan alamat toko buku murah yang pemiliknya saya kenal. Berkali-kali mencari kartu namanya di lemari baju dan nihil. Menyenangkan, kan? Seperti halnya kamu keluar dari kamar mandi restuan lalu kembali ke meja makan dan kamu dapati makanan pesananmu sudah terhidang.
Membaca lelucon menarik. Seorang beragama menyodorkan dua kue manisan kepada orang Eropa. Yang satu terbuka, yang satu tertutup plastik. Orang shalih itu bertanya, "Mana yang akan kamu pilih?" Orang Eropa itu menjawab, "Tentu saya memilih kue yang sudah terbuka." Saya tahu, maksud lelucon ini mau menggambarkan pilihan antara wanita yang menutup auratnya dengan yang tidak. Saya dibuat tertawa sekaligus ingat, bagaimana saat membaca buku Milan Kundera, saya sebenarnya harus ekstra bersabar.
Mendapati iklan les bahasa Turki murah di dekat tempat tinggal. Argh, jadi pengen les.
Ssst, sudah awal bulan. Sudah jadwalnya menghafal Al Qur’an. Mau lulus tahun ini kan?
Nb: saya sedang menengok, bukan menulis.
~
~ Sengkarut ide, serakan asa dan serpihan momen::
Senin, 01 April 2013
Sabtu, 24 November 2012
Ia Yang Bernama Kehilangan
Seorang lelaki duduk termenung di sudut café El Fisawhy. Ia membolak-balik
secarik kertas yang ia temukan terselip di bawah pintu flatnya. Ia masghul mendapati
hal aneh pagi tadi. Ia masghul lagi setelah membaca isinya. Ia duduk termenung
menunggu teman lamanya datang. Seorang pelayan yang sudah dikenalnya 7 tahun
lalu menghidangkan secangkir kopi Turki yang ia pesan.
Teman yang ia tunggu datang. Setelah mempersilakan duduk dan tanpa menanyai kabar, ia berikan kertas kuning yang sudah ia remas-remas. Ia menyuruhnya membacanya. Sahabatnya penasaran. Lekas-lekas ia membukanya lalu yang mendapatkan pesan itu mendengar mulut temannya berkata, “Terbuat dari apakah ia yang bernama kehilangan?”
“Aku punya cerita.” selanya.
Teman yang ia tunggu datang. Setelah mempersilakan duduk dan tanpa menanyai kabar, ia berikan kertas kuning yang sudah ia remas-remas. Ia menyuruhnya membacanya. Sahabatnya penasaran. Lekas-lekas ia membukanya lalu yang mendapatkan pesan itu mendengar mulut temannya berkata, “Terbuat dari apakah ia yang bernama kehilangan?”
Lelaki itu hanya bisa menjawab, “Aku tidak tahu darimana ia
berasal. Aku hanya bisa merasakannya.”
“Apa yang kamu rasakan?”
“Saya teringat masa kecilku, yang direnggut Tuhan ketika ia merenggut kedua orang tuaku.
“Saya kehilangan cerita berorang tua dan sejak saat itu,
saya nyaris seorang bocah yang dipaksa berumur 23 tahun.”
“Semua yang baik datang dariNya. Semua yang buruk…”
Lelaki itu cepat menukas, “Juga datang dariNya.”
Temannya masih tenang meneruskan, “Semua yang buruk datang bukan
dariNya.”
“Tidak juga!”
“Kok?”
“Lihat kelaparan di Afrika! Lihat aku yang tumbuh tanpa
orang tua!”
Temannya menghela nafas panjang. Ia juga menyadari
kedlaifannya menerangkan asal usul kehilangan dengan detail. Ia hanya bisa
bilang, “Selama kamu menghadapi Tuhan dengan masa lalumu, selama itu pula Ia
menjumpaimu dengan segala takdir buruk.”
Namun lelaki itu tetap keukeuh. “Semua temanku yang berorang
tua mengujariku: tidak ada obat mujarab di dunia selain kampung halaman.
“Barangkali dari sana, kehilangan ini berasal. Karena aku
punya kampung halaman.”
“Bukankah kamu yang selalu bilang padaku, segala sesuatu
datang berantai. Lihatlah dirimu sendiri, kawan, buah dari masa lalumu sendiri!”
“Tuhan yang menjadikanku seonggok masa lalu yang tak
mati-mati.”
“Bukan. Ingatanmu sendiri yang menciptakanmu seorang masa
lalu. Jika kamu bisa melenyapkan ingatan dari dirimu, tentu kamu tidak akan
menyuruhku datang untuk ngobrol urusan sentimental semacam ini. Tapi kupikir,
itu tidak mungkin…”
“Ayo! Tunjukkan cara melenyapkan ingatan kepadaku!”
“Tidak mungkin bisa. Semua orang punya ingatan, kawan.”
“Dan terbukti kan, benih kehilangan ini lahir dari rahim ingatan.”
“Tapi itu bukan satu-satunya, kawan. Jangan sering-sering
melibatkan Tuhan dalam urusan keburukan. Jika memang benar apa yang kamu katakan,
kiamat sudah terjadi dari dulu.”
Kawannya memesan syahlab. Sejenak mereka berdua menikmati
minuman. Pelayan yang akrab dengan keduanya ingin sekali terlibat dalam
pembicaraan.
Kawannya berpikir sejenak kemudian berkata, “Tidak semua yang
pergi pasti hilang sebagaimana tidak semua yang ditunggu mesti datang. Biarkan semua
menghampiri kehidupan kita, baik dengan permisi maupun tidak. Kita tidak perlu
menyalahkan apa-apa. Musim dingin tidak pernah
menyalahkan musim gugur yang menggugurkan dedaunan dan bebungaan. Bukankah
karena itu, tidak ada yang dibawa musim dingin selain musim semi selepas ia
pergi?
“Kehilangan memiliki bayangan, kawan.
Nama bayangannya kerelaan.”
Lelaki itu menelan omongan temannya
dalam-dalam. Pelayan tua tadi datang ketika ia minum pahit sisa kopinya.
“Aku punya cerita.” selanya.
Kedua pemuda itu hormat kepadanya. Mereka meminta beliau
duduk menemani barang sejenak. Kebetulan café sedang sepi.
“Beberapa minggu di sini aku berjumpa seorang turis yang
mengaku tengah menulis novel. Dia berkepala tiga. Ketika aku menghidangkan minuman
pesanannya dan mempersilakannya, dia tiba-tiba bilang kehilangan ide meneruskan
tulisan. Gara-gara dialog yang diucapkan oleh tokoh rekaannya sendiri. Kata si
tokoh, ‘setiap orang merasa menderita kehilangan sesuatu atau seseorang yang
paling ia miliki dan paling ia ingini. Kira-kira bagaimana rasanya kehilangan
sesuatu atau seseorang yang sudah paling ia ingini dan akan paling ia miliki?’ Dia
berhenti menulis, memilih ke sini duduk berjam-jam memikirkan rasa kehilangan
yang demikian rupanya.”
Kedua pemuda itu larut menyimak.
“Obrolan kalian mengingatkanku padanya. Sebelum aku izin
permisi, aku dititipinya satu pertanyaan: terbuat dari apakah ia yang bernama kehilangan?
Kamu kehilangan masa lalu yang paling kamu ingini, lantas kamu simpulkan ia
datang dari ingatan. Tapi si tokoh itu! Dia belum punya ingatan tentang masa
depan. Ia hanya dihampiri kenyataan kehilangan apa yang paling ia ingini dan
akan paling ia miliki.”
Sebelum beranjak berdiri, pelayan tua itu mengeluarkan
sesobek kertas dari sakunya. “Ini nomor telepon dan alamat hotel dia menginap.”
Kedua pemuda saling tatap, tersenyum seperti sudah sepakat
dengan apa yang mereka berdua akan lakukan bersama.
Pelayan tua tersenyum melihat mereka berlalu. Ia kira-kira
tahu, apa yang akan mereka cari. Bila bertemu mereka lagi di sini, ia ingin
bertanya, “Betulkah kehilangan terbuat dari ingatan?”
Kairo, 24 November 2012
Langganan:
Postingan (Atom)