Berita politik Mesir sudah jarang saya ikuti. Membacanya lewat twitter—saya mengfolloow puluhan situs berita dan puluhan aktivis politik, blogger dan pengamat politik—hampir tidak memberiku jeda untuk bernafas.
Akhirnya, kucukupkan dengan membaca tulisan panjang yang keluar mingguan dan merasakan dampak dari dinamika politik dalam negeri Mesir secara mikro: hidup di tanah Mesir sendiri. Ini yang barangkali luput oleh yang melihat berita Mesir dari luar—fokus pada hal-hal besar semata.
Sejak bulan Ramadhan lalu, saya memiliki 3 teman Mesir yang meminta saya memberikan privat les bahasa Indonesia. Ketiganya adalah mantan mahasiswa jurusan pariwisata dan perhotelan. Sebelum revolusi, mereka bekerja sebagai pemandu wisata. Satu dari mereka, Emad, sudah menikah dan beruntung masih kerja sebagai pemandu. Dua yang lain, Basam dan Yousef praktis menganggur tak berpenghasilan. Keduanya sudah berumur tapi belum menikah.
Saat memberikan les di rumah Yousef di kawasan Masarrah, Kairo, saya ditunjukkan foto kenang-kenangan dia bersama tamu wisatawan yang dipandunya. Aku melihat turis-turis bermuka Indonesia. Aku yakin itu, karena jelas-jelas banner yang jadi latar depan foto bersama adalah nama perusahaan dengan kosa kata Indonesia. Sayangnya, saya lupa nama perusahaan itu. Yousef menjelaskan, destinasi mereka adalah pendakian ke gunung Sinai, Piramida di Giza dan gereja gantung di jalan Mari Girgis, Kairo lama.
Kemudian dari penjelasan Basam, saya baru tahu, jenis pariwisata di Mesir ada dua. Pertama, pariwisata adventure dan pariwisata budaya. Para pemandu wisata bergerak di bidang pariwisata budaya. Mereka mengenalkan peninggalan sejarah Mesir dari masa Firaun sampai dinasti Islam. Basam sempat menawariku, karena aku orang Islam, jika ingin melihat langsung situs-situs bersejarah peninggalan dinasti Islam dari masa Fathimiyah sampai Turki Utsmani, dia siap menemaniku berkeliling Kairo. Dia tahu semuanya, karena itu yang dipelajarinya selama belajar di Fakultas Perhotelan dan Pariwisata Universitas Kanal Suez di Ismailiyah.
Praktis setelah revolusi 25 Januari, mereka menganggur. Tempat wisata lesu karena sepi pengunjung. Pendapatan terbesar kedua negara setelah Terusan Suez menurun drastis karena situasi keamanan yang tidak stabil. Ditambah pemberlakukan beberapa negara Eropa yang melarang penerbangan ke Mesir—yang sepertinya satu demi satu mulai dicabut.
Terakhir kali memberi les, Basam, Yousef dan Emad menunjukkan selebaran petisi pengumpulan tanda tangan pekerja pariwisata untuk menurunkan kepala asosiasi pekerja pariwisata. Isi selebarannya adalah menarik kepercayaan dan tuntutan pemecatan karena dari rentan pasca revolusi sampai sekarang, perbaikan pengadaan lapangan pekerjaan buat mereka dan pekerja seprofesi dengan mereka tak kunjung dirasakan.
Mengenai keamanan, bagi saya Mesir juga masih dapat dikatakan belum stabil. Sejak pembubaran demonstran di Rabea el Adawea, 14 Agustus, 17 Mesir dari 27 provinsi di Mesir diberlakukan jam malam dan undang-undang darurat di Kairo. Termasuk di Ismailiyah, tempat saya mengajar bahasa Indonesia untuk pelajar Universitas Kanal Suez di Pusat Studi Indonesia dua hari dalam seminggu.
Pemeriksaan tidak ketat ketika berangkat karena siang hari. Tapi dalam perjalanan pulang pada pukul 5 sore (itu artinya sudah Maghrib karena sedang menganjak musim dingin), sekarang ini pemeriksaan bisa lebih dari dua kali—waktu mau masuk dan mau keluar Ismailiyah. Saking brengsek dan lucunya, pernah mobil kami dihentikan polisi karena alas an tidak membawa surat perwakilan dari empunya mobil yang kami sewa. Pertanyaan demi pertanyaan sengaja diarahkan ke kami dan ujung-ujungnya pak polisi minta bakhsis, alias tips. Aku ambil 20 Pound, baru mobil kami diizinkan jalan.
Sebenarnya, pemberlakukan kedaruratan seperti sekarang ini—dimana pada hari Jum’at, jam malam mulai diberlakukan mulai pukul 7 malam—sudah biasa dirasakan rakyat Mesir sejak lama. Semenjak mendiang Presiden Anwar Sadat dibunuh dalam perayaan parade militer di Nasr City, penggantinya Husni Mubarak langsung memberlakukan UU Darurat. Aturan ini praktis berlaku selama 30 tahun. Dalam rentan waktu selama itu, polisi dan militer punya hak tak terbatas untuk menangkap dan menginterogasi rakyatnya sendiri yang dicurigai. Saat ini, memang jam malam masih berjalan, jalanan juga sudah sepi, namun kafe-kafe dan toko-toko masih banyak yang buka dan ramai pengunjung.
Sekarang, Mesir sedang mencari identitas demokrasi untuk dirinya sendiri. Betapa gilanya kini pergulatan politik di atas dan pergerakan arus masyarakat di bawah. Partai politik sering bersebarangan karena semangat ideologi yang tinggi sementara arus bawah bergerak menuntut segera cepat tanpa kesabaran—seperti apa yang dilakukan muridku sendiri.
Ada benarnya ucapan dari seorang kawan. Bagi warga asing (termasuk pelajar) yang menetap lama, Mesir jauh lebih baik di tangan militer layaknya sebelum revolusi, karena politik terkendali, keamanan stabil, ekonomi serba murah—tidak seperti rakyat Mesir yang kerap was-was. Dan sekarang, di masa peralihan, dampak politik dan ekonomi menjadikan warga asing sudah merasakan apa yang dirasakan oleh rakyat Mesir sendiri.
~
~ Sengkarut ide, serakan asa dan serpihan momen::
Tampilkan postingan dengan label Cerita Pendek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Pendek. Tampilkan semua postingan
Jumat, 04 Oktober 2013
Sabtu, 24 November 2012
Ia Yang Bernama Kehilangan
Seorang lelaki duduk termenung di sudut café El Fisawhy. Ia membolak-balik
secarik kertas yang ia temukan terselip di bawah pintu flatnya. Ia masghul mendapati
hal aneh pagi tadi. Ia masghul lagi setelah membaca isinya. Ia duduk termenung
menunggu teman lamanya datang. Seorang pelayan yang sudah dikenalnya 7 tahun
lalu menghidangkan secangkir kopi Turki yang ia pesan.
Teman yang ia tunggu datang. Setelah mempersilakan duduk dan tanpa menanyai kabar, ia berikan kertas kuning yang sudah ia remas-remas. Ia menyuruhnya membacanya. Sahabatnya penasaran. Lekas-lekas ia membukanya lalu yang mendapatkan pesan itu mendengar mulut temannya berkata, “Terbuat dari apakah ia yang bernama kehilangan?”
“Aku punya cerita.” selanya.
Teman yang ia tunggu datang. Setelah mempersilakan duduk dan tanpa menanyai kabar, ia berikan kertas kuning yang sudah ia remas-remas. Ia menyuruhnya membacanya. Sahabatnya penasaran. Lekas-lekas ia membukanya lalu yang mendapatkan pesan itu mendengar mulut temannya berkata, “Terbuat dari apakah ia yang bernama kehilangan?”
Lelaki itu hanya bisa menjawab, “Aku tidak tahu darimana ia
berasal. Aku hanya bisa merasakannya.”
“Apa yang kamu rasakan?”
“Saya teringat masa kecilku, yang direnggut Tuhan ketika ia merenggut kedua orang tuaku.
“Saya kehilangan cerita berorang tua dan sejak saat itu,
saya nyaris seorang bocah yang dipaksa berumur 23 tahun.”
“Semua yang baik datang dariNya. Semua yang buruk…”
Lelaki itu cepat menukas, “Juga datang dariNya.”
Temannya masih tenang meneruskan, “Semua yang buruk datang bukan
dariNya.”
“Tidak juga!”
“Kok?”
“Lihat kelaparan di Afrika! Lihat aku yang tumbuh tanpa
orang tua!”
Temannya menghela nafas panjang. Ia juga menyadari
kedlaifannya menerangkan asal usul kehilangan dengan detail. Ia hanya bisa
bilang, “Selama kamu menghadapi Tuhan dengan masa lalumu, selama itu pula Ia
menjumpaimu dengan segala takdir buruk.”
Namun lelaki itu tetap keukeuh. “Semua temanku yang berorang
tua mengujariku: tidak ada obat mujarab di dunia selain kampung halaman.
“Barangkali dari sana, kehilangan ini berasal. Karena aku
punya kampung halaman.”
“Bukankah kamu yang selalu bilang padaku, segala sesuatu
datang berantai. Lihatlah dirimu sendiri, kawan, buah dari masa lalumu sendiri!”
“Tuhan yang menjadikanku seonggok masa lalu yang tak
mati-mati.”
“Bukan. Ingatanmu sendiri yang menciptakanmu seorang masa
lalu. Jika kamu bisa melenyapkan ingatan dari dirimu, tentu kamu tidak akan
menyuruhku datang untuk ngobrol urusan sentimental semacam ini. Tapi kupikir,
itu tidak mungkin…”
“Ayo! Tunjukkan cara melenyapkan ingatan kepadaku!”
“Tidak mungkin bisa. Semua orang punya ingatan, kawan.”
“Dan terbukti kan, benih kehilangan ini lahir dari rahim ingatan.”
“Tapi itu bukan satu-satunya, kawan. Jangan sering-sering
melibatkan Tuhan dalam urusan keburukan. Jika memang benar apa yang kamu katakan,
kiamat sudah terjadi dari dulu.”
Kawannya memesan syahlab. Sejenak mereka berdua menikmati
minuman. Pelayan yang akrab dengan keduanya ingin sekali terlibat dalam
pembicaraan.
Kawannya berpikir sejenak kemudian berkata, “Tidak semua yang
pergi pasti hilang sebagaimana tidak semua yang ditunggu mesti datang. Biarkan semua
menghampiri kehidupan kita, baik dengan permisi maupun tidak. Kita tidak perlu
menyalahkan apa-apa. Musim dingin tidak pernah
menyalahkan musim gugur yang menggugurkan dedaunan dan bebungaan. Bukankah
karena itu, tidak ada yang dibawa musim dingin selain musim semi selepas ia
pergi?
“Kehilangan memiliki bayangan, kawan.
Nama bayangannya kerelaan.”
Lelaki itu menelan omongan temannya
dalam-dalam. Pelayan tua tadi datang ketika ia minum pahit sisa kopinya.
“Aku punya cerita.” selanya.
Kedua pemuda itu hormat kepadanya. Mereka meminta beliau
duduk menemani barang sejenak. Kebetulan café sedang sepi.
“Beberapa minggu di sini aku berjumpa seorang turis yang
mengaku tengah menulis novel. Dia berkepala tiga. Ketika aku menghidangkan minuman
pesanannya dan mempersilakannya, dia tiba-tiba bilang kehilangan ide meneruskan
tulisan. Gara-gara dialog yang diucapkan oleh tokoh rekaannya sendiri. Kata si
tokoh, ‘setiap orang merasa menderita kehilangan sesuatu atau seseorang yang
paling ia miliki dan paling ia ingini. Kira-kira bagaimana rasanya kehilangan
sesuatu atau seseorang yang sudah paling ia ingini dan akan paling ia miliki?’ Dia
berhenti menulis, memilih ke sini duduk berjam-jam memikirkan rasa kehilangan
yang demikian rupanya.”
Kedua pemuda itu larut menyimak.
“Obrolan kalian mengingatkanku padanya. Sebelum aku izin
permisi, aku dititipinya satu pertanyaan: terbuat dari apakah ia yang bernama kehilangan?
Kamu kehilangan masa lalu yang paling kamu ingini, lantas kamu simpulkan ia
datang dari ingatan. Tapi si tokoh itu! Dia belum punya ingatan tentang masa
depan. Ia hanya dihampiri kenyataan kehilangan apa yang paling ia ingini dan
akan paling ia miliki.”
Sebelum beranjak berdiri, pelayan tua itu mengeluarkan
sesobek kertas dari sakunya. “Ini nomor telepon dan alamat hotel dia menginap.”
Kedua pemuda saling tatap, tersenyum seperti sudah sepakat
dengan apa yang mereka berdua akan lakukan bersama.
Pelayan tua tersenyum melihat mereka berlalu. Ia kira-kira
tahu, apa yang akan mereka cari. Bila bertemu mereka lagi di sini, ia ingin
bertanya, “Betulkah kehilangan terbuat dari ingatan?”
Kairo, 24 November 2012
Langganan:
Postingan (Atom)