Pada malam Minggu 14 April lalu, saya memberanikan diri untuk datang ke Cairo Opera House. Lewat informasi dari halaman resmi facebook tempat pertunjukan utama di Kairo ini, saya mendapati informasi acara pertunjukan musik klasik: Symphonic Concert dalam Cairo Symphonic Concert Season 53.
Malam itu, saya datang ke sana untuk pertama kali. Seorang diri. Mengenakan setelan celana hitam, kemeja dan jas biru, dengan sepatu pantopel cokelat. Seorang teman bilang, berpakaian rapi—seperti cara berpakaian yang saya tunjukkan kepadanya sebelum berangkat—sudahlah cukup diizinkan untuk masuk, tanpa perlu mengenakan dasi. Naik kendaraan umum dua kali, ngoper dari Hay Sabi', kemudian berganti kereta api bawah tanah jurusan Giza, turun di stasiun Opera. Tiba di sana, waktu baru menunjuk sekitar pukul tujuh, jeda satu jam sebelum konser dimulai.
Lalu saya mendatangi loket. Petugasnya ramah dan semuanya berdasi. Saya katakan kepadanya, ingin duduk di balkon opera. Karena berstatus mahasiswa, saya cukup membayar 15 Pound. Tempat duduk saya bernomor 38, lantai satu. Sama-sama menikmati waktu, saya memilih untuk menghabiskannya di dalam saja, sambil mengamati tata ruang opera dan mencari-cari jadwal pertunjukan yang terpampang. Seorang petugas yang berjaga di depan pintu masuk—berkemeja putih, berjas merah tua dan tentu saja berdasi—mengatakan kepada saya untuk duduk di ruang tunggu, luar Main Hall. Pertunjukkan belum dimulai, alasannya.
Sambil memandangi orang-orang datang berduyun, berpasangan, tua muda, saya mencoba menipu waktu dengan membaca novel La Ahadu Yanamu fil Iskandariyah yang sengaja saya bawa sebagai teman perjalanan. Sambil mempersilakan para hadirin untuk duduk di tempat tunggu, bapak petugas memandang dan kemudian menanyai saya. Ia mempersoalkan dasi. Ia menyarankan saya untuk turun meminjam ikat leher ke bagian informasi. Saya dapatkan dasi pinjaman dengan menyerahkan identitas paspor yang baru bisa diambil setelah pertunjukan selesai. Persoalannya: saya lupa memakai dasi (terakhir kali memakai dasi adalah masa belajar di Aliyah 7 tahun lalu). Saya tertolong oleh seorang supir Opera yang dengan ramah memakaikan dasi untuk saya. "Now you are awesome," ujarnya.
Ada dua alasan mengapa pada akhirnya saya bertekad ingin melihat pertunjukan musik klasik malam itu. Pertama, akhir-akhir ini, keakraban telinga dengan musik klasik mulai tumbuh. Memang masih sedikit, nama-nama komposer dan musik gubahan mereka yang saya kenal, tetapi keberadaan kelas biola The Fiddles Rumah Budaya Akar turut membantu menumbuhkan kecintaan saya pada jenis musik tersebut. Mendengarkan musik klasik apalagi sudah mampu menikmatinya saya anggap sebagai langkah eksternal untuk memupuk kepekaan feeling bermain biola. Kedua, simpel saja. Rasa penasaran ingin menyaksikan seberapa megah Main Hall Cairo Opera House yang sebelumnya hanya saya dengar dari cerita kawan-kawan.
Pintu Main Hall sudah dibuka. Para hadirin dipersilahkan masuk. Saya duduk di kursi balkon sebelah kanan, nomor 38. Mata saya memutari gedung megah yang dibangun berkat hadiah dari pemerintah Jepang setelah kunjungan mantan Presiden Husni Mubarak pada bulan April 1983. Besar dengan satu lantai dasar dan 3 lantai di atasnya, bercat merah orange.
Pertunjukan Symphonic Concert malam ini dipimpin oleh Hisham Gabr. Ia
adalah seorang konduktor dan komposer berkebangsaan Mesir yang tercatat
sukses di dalam dan luar negeri. Semua perhatian dan mata terhujam ke
depan ketika semua pemain musik, mengambil duduk di tempatnya
masing-masing. Tepuk tangan menggemuruh menyambut masuknya sang
konduktor.
Symphonic Concert malam itu menghadirkan tiga judul utama. Hebrides Overture (Fingal's Cave), Op. 26 milik Felix Mandelssohn, Horn Concerto No.1 in Eb major, Op. 11 karya Richard Strauss dan Symphony No. 4 in E minor, Op. 98 gubahan Johannes Brahms. Ketiganya sama-sama berkebangsaan Jerman dan hidup pada Zaman Romantik (1815-1910).
Penamaan Symphonic Concert didasarkan pada konser yang memasukkan unsur symphony dan alat musik lain berjenis serupa. Berbeda dari Symphonic Orchestra yang memainkan sejumlah symphony sekaligus memiliki sederetan daftar musik "serius".
Hebrides Overture (Fingal's Cave), Op. 26
Felix Mandelssohn: The Hebrides (Fingal's Cave)
Musik yang dimainkan sebagai overture, sepenggal musik orchestra yang dijadikan pembukaan dalam sebuah opera atau oratorio (tipe komposisi musik yang tersusun atas perluasan setting dari teks-teks keagamaan yang bermuatan unsur-unsur dramatik).
The Concert Overture The Hebrides (German: Die Hebriden) disusun Mendelssohn pada tahun 1830. Lagu ini terinspirasi oleh gua besar yang dikenal dengan Fingal's Cave di pulau Staffa yang terletak di kepulauan Hebrides, di pantai lepas barat Skotlandia. Seperti umumnya jenis musik Zaman Romantik, ini bukan musik pengantar dalam arti mendahului sebuah drama atau opera. Ia adalah concert overture (pembukaan sebuah konser), pilihan musik yang berdiri sendiri dan dalam perkembangannya kini menjadi bagian dari repertoar orchestra standar. Musik ini didedikasikan untuk Raja Friedrich Wilhelm IV dari Prusia.
Dalam surat yang Mendelssohn kirim untuk adiknya, Fanny Mendelssohn, ia menuliskan keterkesannya pada The Hebrides, "Untuk membuatmu mengerti betapa luar biasanya The Hebrides mempengaruhi saya, akan aku jelaskan pada surat berikutnya, yang kini masih menancap kuat di kepalaku." Awalnya, Felix menamainya Die Einsame Insel (The Lonely Island).
Overture ini terdiri dari dua tema utama. Pertama adalah note pembuka yang menceritakan sebuah theme dimana Felix menulisnya ketika mengunjungi gua Fingal dan sebagai tandanya, dimainkan dengan viola, cello dan bassoon. Sedangkan theme kedua menggambarkan suasana pergerakan di laut dan deru gulung gelombang. Suasana di atas digambarkan lewat permainan 2 flute, 2 obo, 2 clarinet, 2 bassoon, 2 terompet dan alat musik senar gesek (keluarga biola). Durasi sekitar 10 menit.
Horn Concerto No.1 in Eb major, Op. 11
Horn Concerto No.1 in Eb major, Op. 11
Tidak ada composer, bahkan Brahms, yang lebih tahu dari Strauss tentang bagaimana memunculkan kekayaan tone Horn (terompet tradisional Eropa) Perancis. Ayahnya adalah seorang pemain terompet terkemuka, pemimpin seksi Horn di Munich Opera House. Dedikasi concert horn pertama anaknya ditulis dalam rentan waktu 1882-1883 di awal perjalanan karirnya. Ia lahir dengan keahlian "emas" memainkan horn. Karyanya ini menjadi representasi dari periode Romantik dan merupakan repertoar pokok dari horn modern.
Dimainkan dalam 3 movement, masing-masing dengan jenis tempo Allegro, Andante dan Allegro-Rondo, dimainkan tanpa memberikan jeda. Strauss memberikan kesatuan pada musik dengan menggunakan theme yang sama secara esensial baik di awal yang terdengar seperti keriuhan maupun perubahan irama sebagai theme pokok untuk tempo ketiga, Rondo. Ketika masuk Rondo, horn menjadi sering bermain dan keluarga biola bermain begitu lincah.
Total durasi sekitar 16 menit. Malam itu, Amr Aboul Naga tampil sebagai peniup horn.
Symphony No. 4 in E minor, Op. 98
Brahms Symphony No. 4 in E Minor Op. 98
Merupakan symphony terakhir Brahms. Ia mulai mengerjakannya di Mürzzuschlag, selesai pada tahun 1885. Dimainkan dengan 2 flute, 2 obo, 2 clarinet, 2 basson dan beberapa alat tiup lain serta sejumlah alat musik senar gesek (keluarga biola).
Symphony ini tersusun ke dalam 4 movement dengan tanda tempo Allegro non troppo (E minor), Andante moderato (E minor/ E major), Allegro giocoso (C major) dan Allegro energico e passionate (E minor).
Movement pertama terdengar dramatis dan bergairah sedangkan movement kedua adalah movement gaya requiem (misa untuk orang meninggal dunia) dengan suara gaya Mesir yang dimainkan horn. Movement ketiga terdengar ceria (C major). Movement terakhir penting sebagai contoh langka dari symphonic passacaglia (jenis musik yang muncul di awal abad 17 di Spanyol), yang mirip dengan chaconne (tipe komposisi musik yang populer di Zaman Baroque) dengan sedikit perbedaan bahwa subjek bisa muncul dengan banyak suara lebih dari bass. Satu hal yang unik adalah meskipun movement keempat dimainkan dengan scale E minor, sebenarnya ia memiliki scale E major chord ketujuh yang pada akhirnya bisa didengar di awal, tengah dan akhir dengan penutup yang dramatis.Waktu sekitar 40 menit lewat tak terasa mendengarkan symphony Brahms ini.
Konser malam itu berlangsung hampir dua jam. Saya terpikat dengan segala permainan, jenis tempo, power string yang ditampilkan. Kadang terdengar lembut dan pelan, kadang terdengar kencang bak note-note balok yang diberondongkan ke telinga. Sehari setelahnya, di facebook saya menulis sebuah status, " Menyaksikan tigapuluhan keluarga alat musik dawai yang digesek (biola, viola, cello dan kontra bass), belasan alat musik tiup (terompet, horn, clarinet, flute, saxofon dll), bersama-sama memainkan Felix Mendelssohn, Richard Strauss dan Johannes Brahms. Menikmatinya sembari sesekali mata terpejam dan tiba-tiba masa lalu seperti ditumpahkan dari langit. Malam minggu yang sensasional \M/".
Akar, 27 April 2012.
~
~ Sengkarut ide, serakan asa dan serpihan momen::
Kamis, 26 April 2012
Kamis, 22 Maret 2012
Terusan Suez: Dari Ambisi Hingga Perang
Dalam perjalanan ke kota Ismailiyah, rombongan kami menemukan sebuah objek sejarah yang penting. Kami menemukan rumah konseptor pembangunan Terusan Suez.

Foto ini diambil di depan rumah dan kantor Ferdinand de Lesseps, maestro pembangunan terusan Suez. Semenjak ekspansi Perancis ke Afrika Utara, Kaisar Napoleon Bonaparte berniat membangun kanal untuk kapal-kapal yang akan berlayar ke laut lepas. Naiknya Said Pasha, anak Muhammad Ali Pasha pada tahun 1854, menjadi penguasa di Mesir, impian kanal menemukan nasib baiknya. Mereka berdua adalah sahabat karib di Perancis. Said Pasha menunjuknya mengepalai proyek terusan ini. Dan de Lesseps membuktikan dirinya berhasil.
Rumah de Lesseps, terhitung besar dan terawat. Bentuk bangunannya mengingatkan kami pada bentuk rumah-rumah peristirahatan Belanda di Indonesia. Jendela rumah berukurang panjang dan lebar, taman-taman di sekelilingnya, atap rumah bergenting menunjukkan kepada kami seperti sedang tidak berada di Mesir tatkala memandangnya. Sekitar 500 meter, kita bisa langsung melihat Terusan Suez, mendengar deru ombak dan memandangi kapal-kapal lewat dari Asia-Eropa.
Tidak jauh dari rumah de Lesseps, ada sebuah Distrik Nakhil. Rumah-rumah di sana dibangun juga dengan konsep Eropa. Dulu, kawasan ini adalah tempat pegawai Eropa yang bekerja di perusahaan Terusan Suez. Perusahaan ini sahamnya dulu dikuasai Perancis dan Inggris sebelum dinasionalisasi.
Diceritakan, Khediv Ismail, keponakan Said Pasha yang memerintah Mesir setelahnya pada 1867 telah menyebarkan undangan ke Eropa yang jumlahnya sekitar 6 ribu orang. 500 juru masak didatangkan dari Genova dan Marseille. Tamu-tamu akan menghadiri undangan itu, namun pembangunan kanal belum selesai. De Lesseps berlomba dengan waktu. Apalagi di terusan yang akan dilayari kapal-kapal dari Eropa, ada gundukan tinggi yang menghalangi kapal melintas.
"Ledakkan saja!" perintah de Lesseps.
"Itu mustahil." jawab para insinyur.
"Kita coba saja!" kata de Lesseps, "Kita tidak punya pilihan lain." Tidak tercantum sebelumnya anggaran untuk melaksanakan perintahnya.
Akhirnya, perintah itu dilaksanakan dan berhasil. Ganjalan itu hancur, air meluap muntah ke daratan padang pasir. Terusan Suez dibuka pada 19 November 1869 (versi lain mengatakan pembukaan dilakukan pada tanggal 16 atau 17 November). Ada yang bilang, orang-orang Mesir diperintahkan untuk berbaris di sepanjang tepian Terusan Suez guna menyambut rombongan tamu-tamu dari Eropa. Rau Eugenie, istri Napoleon III bahkan mengatakan, ia tidak pernah melihat pesta semegah ini dalam hidupnya. Terusan Suez memanjang sekitar 193 kilometer, melewati tiga kota utama; Port Said (Laut Tengah), Ismailiyah dan Suez (Laut Merah).
Sebelum Terusan Suez dibangun, transportasi dilakukan dengan mengangkut barang-barang antar pelabuhan Port Said dan Suez dengan transportasi darat.
Ketika masuk ke Ismailiyah lewat dalam (bukan lewat jembatan), akan kita dapati patung monument untuk mengenang rakyat Mesir yang menggali Terusan Suez. Monument itu menggambarkan seorang petani yang tegap memegang cangkul.
Konon, setelah penjelajah Vasco Da Gama menemukan Tanjung Harapan di Afrika Selatan, kapal-kapal yang datang tidak lagi kembali ke Mesir, tapi memilih berlayar melintasi sepanjang pinggiran Afrika. Setelah Kerajaan Inggris Raya berhasil menjadikan India sebagai salah satu negara jajahannya, jalur pelayaran Tanjung Harapan dimonopoli oleh Inggris. Hal ini membuat panas Perancis.
Perancis perlu melakukan sesuatu untuk mengembalikan kejayaan dan kehebatannya. Akhirnya disiasatilah untuk membangun Terusan Suez. Namun semua usaha untuk mewujudkannya berujung gagal, disebabkan waktu itu, ada keyakinan yang pada akhirnya terbukti salah bahwa permukaan air Laut Merah lebih tinggi ketimbang permukaan air Laut Tengah.
Napoleon pernah memberikan tugas kepada salah satu insinyurnya untuk mempelajari kemungkinan membuat Terusan di tanah Mesir. Hasil penelitian yang dilakukan oleh tim risetnya terbukti salah. Waktu itu, dikatakan tidak memungkinkan melaksanakan misi itu karena ketinggian permukaan air Laut Merah dan Laut Tengah tidak sama.
Baru ketika Mesir dipegang oleh Muhammad Said Pasha, perencanaan pembangunan ini menemukan titik nyata. Proyek pembangunan ini membuat Inggris ketakutkan karena kepentingannya di kawasan pelayaran Afrika terancam. Terusan ini dibangun selama 10 tahun (1859-1869)
Presiden Gamal Abdul Naser pada 26 Juli 1956 memutuskan untuk menasionalisasi Terusan Suez. Keputusan ini menyulut serangan dari Amerika, Perancis dan Inggris terhadap wilayah Mesir. Dalam perang Enam Hari pada pada 1967, Israel berhasil menguasai Terusan Suez. Dan dalam perang Yom Kippur pada tahun 1973, tentara Mesir berhasil merebut kembali Suez. Dalam sejarahnya, perang ini menjadi simbol keberhasilan Terusan Suez berhasil sepenuhnya kembali ke tangan Mesir. Pada tahun 1975, Terusan Suez akhirnya dibuka untuk umum setelah ditutup sementara pada masa perang.
Terusan Suez di Kota Ismailiyah
Foto ini diambil di depan rumah dan kantor Ferdinand de Lesseps, maestro pembangunan terusan Suez. Semenjak ekspansi Perancis ke Afrika Utara, Kaisar Napoleon Bonaparte berniat membangun kanal untuk kapal-kapal yang akan berlayar ke laut lepas. Naiknya Said Pasha, anak Muhammad Ali Pasha pada tahun 1854, menjadi penguasa di Mesir, impian kanal menemukan nasib baiknya. Mereka berdua adalah sahabat karib di Perancis. Said Pasha menunjuknya mengepalai proyek terusan ini. Dan de Lesseps membuktikan dirinya berhasil.
Rumah de Lesseps, terhitung besar dan terawat. Bentuk bangunannya mengingatkan kami pada bentuk rumah-rumah peristirahatan Belanda di Indonesia. Jendela rumah berukurang panjang dan lebar, taman-taman di sekelilingnya, atap rumah bergenting menunjukkan kepada kami seperti sedang tidak berada di Mesir tatkala memandangnya. Sekitar 500 meter, kita bisa langsung melihat Terusan Suez, mendengar deru ombak dan memandangi kapal-kapal lewat dari Asia-Eropa.
Tidak jauh dari rumah de Lesseps, ada sebuah Distrik Nakhil. Rumah-rumah di sana dibangun juga dengan konsep Eropa. Dulu, kawasan ini adalah tempat pegawai Eropa yang bekerja di perusahaan Terusan Suez. Perusahaan ini sahamnya dulu dikuasai Perancis dan Inggris sebelum dinasionalisasi.
Diceritakan, Khediv Ismail, keponakan Said Pasha yang memerintah Mesir setelahnya pada 1867 telah menyebarkan undangan ke Eropa yang jumlahnya sekitar 6 ribu orang. 500 juru masak didatangkan dari Genova dan Marseille. Tamu-tamu akan menghadiri undangan itu, namun pembangunan kanal belum selesai. De Lesseps berlomba dengan waktu. Apalagi di terusan yang akan dilayari kapal-kapal dari Eropa, ada gundukan tinggi yang menghalangi kapal melintas.
"Ledakkan saja!" perintah de Lesseps.
"Itu mustahil." jawab para insinyur.
"Kita coba saja!" kata de Lesseps, "Kita tidak punya pilihan lain." Tidak tercantum sebelumnya anggaran untuk melaksanakan perintahnya.
Akhirnya, perintah itu dilaksanakan dan berhasil. Ganjalan itu hancur, air meluap muntah ke daratan padang pasir. Terusan Suez dibuka pada 19 November 1869 (versi lain mengatakan pembukaan dilakukan pada tanggal 16 atau 17 November). Ada yang bilang, orang-orang Mesir diperintahkan untuk berbaris di sepanjang tepian Terusan Suez guna menyambut rombongan tamu-tamu dari Eropa. Rau Eugenie, istri Napoleon III bahkan mengatakan, ia tidak pernah melihat pesta semegah ini dalam hidupnya. Terusan Suez memanjang sekitar 193 kilometer, melewati tiga kota utama; Port Said (Laut Tengah), Ismailiyah dan Suez (Laut Merah).
Sebelum Terusan Suez dibangun, transportasi dilakukan dengan mengangkut barang-barang antar pelabuhan Port Said dan Suez dengan transportasi darat.
Ketika masuk ke Ismailiyah lewat dalam (bukan lewat jembatan), akan kita dapati patung monument untuk mengenang rakyat Mesir yang menggali Terusan Suez. Monument itu menggambarkan seorang petani yang tegap memegang cangkul.
Konon, setelah penjelajah Vasco Da Gama menemukan Tanjung Harapan di Afrika Selatan, kapal-kapal yang datang tidak lagi kembali ke Mesir, tapi memilih berlayar melintasi sepanjang pinggiran Afrika. Setelah Kerajaan Inggris Raya berhasil menjadikan India sebagai salah satu negara jajahannya, jalur pelayaran Tanjung Harapan dimonopoli oleh Inggris. Hal ini membuat panas Perancis.
Perancis perlu melakukan sesuatu untuk mengembalikan kejayaan dan kehebatannya. Akhirnya disiasatilah untuk membangun Terusan Suez. Namun semua usaha untuk mewujudkannya berujung gagal, disebabkan waktu itu, ada keyakinan yang pada akhirnya terbukti salah bahwa permukaan air Laut Merah lebih tinggi ketimbang permukaan air Laut Tengah.
Napoleon pernah memberikan tugas kepada salah satu insinyurnya untuk mempelajari kemungkinan membuat Terusan di tanah Mesir. Hasil penelitian yang dilakukan oleh tim risetnya terbukti salah. Waktu itu, dikatakan tidak memungkinkan melaksanakan misi itu karena ketinggian permukaan air Laut Merah dan Laut Tengah tidak sama.
Baru ketika Mesir dipegang oleh Muhammad Said Pasha, perencanaan pembangunan ini menemukan titik nyata. Proyek pembangunan ini membuat Inggris ketakutkan karena kepentingannya di kawasan pelayaran Afrika terancam. Terusan ini dibangun selama 10 tahun (1859-1869)
Presiden Gamal Abdul Naser pada 26 Juli 1956 memutuskan untuk menasionalisasi Terusan Suez. Keputusan ini menyulut serangan dari Amerika, Perancis dan Inggris terhadap wilayah Mesir. Dalam perang Enam Hari pada pada 1967, Israel berhasil menguasai Terusan Suez. Dan dalam perang Yom Kippur pada tahun 1973, tentara Mesir berhasil merebut kembali Suez. Dalam sejarahnya, perang ini menjadi simbol keberhasilan Terusan Suez berhasil sepenuhnya kembali ke tangan Mesir. Pada tahun 1975, Terusan Suez akhirnya dibuka untuk umum setelah ditutup sementara pada masa perang.
Terusan Suez di Kota Ismailiyah
Langganan:
Postingan (Atom)
