Strategi paling jitu untuk menghancurkan suatu bangsa adalah dengan membuatnya melupakan sejarahnya sendiri. Begitu juga sebaliknya, pengokohan karakter sebuah bangsa bisa berjalan tegap bila disanggah lewat penopang kesadaran sejarahnya sendiri sampai ke akar-akarnya.
Bahkan bila diperlukan, sampai pada tahap penciptaan mitos. Turki Sekuler, Bangsa Mongol dan Jepang pernah melakukannya dan terbukti berhasil mencatatkan diri dalam lipatan ingatan sejarah tentang bangsa-bangsa besar.
Totalitas kesadaran bisa dipantik lewat pengetahuan dan pengakuan sebenar-benarnya bahwa kita yang manusia yang hidup di abad 21--dalam hitungan angka--adalah satu-satunya makhluk hidup yang berpotensi mampu "menyejarah".
Ada yang menyebut, mitos adalah sesuatu yang tidak bisa disalahkan tetapi juga tidak bisa dibuktikan. Namun pernah ada yang bilang, mitos adalah ilusi yang bisa menjadi realita. Barangkali poin kedua ini yang dipercayai oleh Kamal At Taturk, Timur Lenk dan Mutsuhito. Mereka berkeyakinan bahwa mitos adalah "sesuatu yang tidak disalahkan dan memang bisa dibuktikan." Dan dunia mengenal mereka benar pada titik ini.
Secara berulang-ulang, memang perlu bagi kita untuk mengingat sepenggal kalimat dari seorang penulis Ceko yang masih hidup sampai sekarang: sejarah adalah perlawanan melawan lupa.
Selamat hari pahlawan, 10 November 1945.
~
~ Sengkarut ide, serakan asa dan serpihan momen::
Jumat, 09 November 2012
Rabu, 31 Oktober 2012
Memento
Setiap detik selalu berbunyi sama. Saban pagi tak pernah
datang cepat atau terlambat. Waktu tak pernah terjungkal dalam tempo yang fals.
Musim dingin tiba dengan gigil dan musim
panas esok menyapu dengan sengat. Manusia
selamat merasai waktu karena memahami betuh arti suasana. Suasana merawat ingatan. Tapi sedikit
yang berani merasainya secara tuntas kala benar-benar sendiri.
Apakah kesendirian lebih menakutkan daripada Mephisto?
Berani bertaruh, berapa banyak orang yang tidak ketakutan pada kesendirian? Barangkali
dengan bersama kesendirian, setiap orang merasa tidak pernah tuntas dengan
dirinya sendiri. Dan suasana membantu melengkapinya di dalam ingatan. Seorang bisa
saja tiba-tiba dijenguk oleh ingatan; barangkali sekarang aku sudah di Paris,
mungkin saat ini aku sudah bahagia, dan aku kini sedang duduk bersamamu…
Semuanya masih utuh di dalam denyut hidup: kasih sayang,
kebencian, janji, dusta, pengkhianatan, harapan dan keputusasaan. Kematian tidak sepenuhnya bisa memutus nyawa
ingatan. Karena bagi saya, ia adalah cermin dari dua tujuan yang digapai banyak
orang setelah mati: surga dan neraka.
Ia bisa teduh seperti bidadari yang senyumannya memaku
pandanganmu. Ia juga bisa sadis seperti iblis yang tak bisa kau tolak jemari
panjangnya melilit tubuhmu.
Dalam suasana dan ingatan, manusia hidup sekaligus mati.
Langganan:
Postingan (Atom)